Raihlah Keberkahan dengan Makan Sahur

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pertama: Makna Makan Sahur

Makan sahur artinya,

كل طعامٍ أو شرابٍ يَتَغَذَّى به آخر الليل في السحر من أراد الصيام

“Setiap makanan dan minuman yang dimakan oleh orang yang hendak berpuasa di akhir malam, di waktu sahur.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247]

Kedua: Hukum Makan Sahur

Ulama sepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah.[1]

Oleh karena itu, makan sahur tidak mempengaruhi sah atau tidaknya puasa. Andai seseorang berpuasa tanpa makan sahur maka puasanya sah, bahkan tetap wajib baginya berpuasa Ramadhan walau tidak sempat makan sahur.

Dan tidak ada dosa baginya apabila tidak makan sahur dengan sengaja, namun ia tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan sahur yang melimpah.

Ketiga: Waktu Makan Sahur

Waktu sahur adalah sepertiga malam yang terakhir sampai sebelum terbit fajar.[2]

Disebut makan sahur karena dilakukan di waktu sahur, dan yang lebih afdhal dilakukan di akhir waktu sahur.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” [HR. Ibnu Adi dan Ad-Dailami dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1773]

Tabi’in yang Mulia ‘Amr bin Maimun rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهَمْ سُحُورًا

“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” [Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 8127]

Keempat: Akhir Waktu Sahur

Akhir waktu sahur adalah sesaat sebelum masuk waktu Shubuh, karena apabila masuk waktu Shubuh maka waktu berpuasa telah dimulai, sampai Maghrib.

Dan waktu terbaik untuk makan sahur adalah seukuran membaca 50 ayat sebelum masuk waktu Shubuh.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kemudian beliau bangkit untuk sholat Shubuh.” Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa jarak antara adzan dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) berkata: “Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

“Seukuran 50 ayat adalah yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, tidak dibaca cepat dan tidak pula lambat.” [Fathul Baari, 4/138]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

خمسون آية: من عشر دقائق إلى ربع الساعة إذا قرأ الإنسان قراءة مرتلة أو دون ذلك وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر

“Seukuran membaca 50 ayat adalah sekitar 10 sampai 15 menit, jika seseorang membaca dengan perlahan-lahan atau sedikit lambat. Dan ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu’alaihi wa sallam benar-benar mengakhirkan waktu sahur dan bahwa beliau bersegera untuk sholat Shubuh, tidak terlambat.” [Syarhu Riyadhis Shalihin, 5/285]

Hadits yang mulia di atas juga menunjukkan bahwa selesainya makan sahur sebelum terbit fajar.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

“Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa selesai makan sahur sebelum terbit fajar.” [Fathul Baari, 4/138-139]

Kelima: Permasalahan Waktu Imsak

Imsak artinya menahan diri, tidak boleh lagi makan dan minum serta melakukan seluruh pembatal puasa.

Kapan seharusnya mulai waktu imsak?

Waktu imsak adalah masuk waktu sholat Shubuh, yaitu ketika terbit fajar, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [Al-Baqoroh: 187]

Fajar yang dimaksud adalah fajar yang kedua atau fajar shodiq, yaitu garis putih atau cahaya putih yang membentang secara horizontal di ufuk Timur, membentang dari Utara ke Selatan.[3]

Apabila fajar tersebut telah muncul, maka masuklah waktu Shubuh dan itulah awal waktu puasa, tidak boleh lagi makan dan minum atau melakukan salah satu pembatal puasa.

Sedang fajar yang pertama atau fajar kadzib adalah garis putih atau cahaya putih yang memanjang secara vertikal,[4] tidak membentang.[5]

Adapun penetapan waktu imsak sebelum terbit fajar maka termasuk mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.[6]

Keenam: Anjuran Makan Sahur Bersama

Dalam hadits yang mulia di atas juga terdapat anjuran makan sahur bersama-sama sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersama Zaid bin Tsabit dan para sahabat yang lain radhiyallahu’anhum.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَفِيهِ الِاجْتِمَاعُ عَلَى السُّحُورِ

“Dalam hadits ini ada anjuran bersama-sama makan sahur.” [Fathul Baari, 4/138]

Ketujuh: Menu Makan Sahur yang Dianjurkan

Tidak ada jenis makanan yang diharuskan untuk makan sahur, namun dianjurkan makan kurma, dan dibolehkan memakan apa saja yang halal walau hanya seteguk air.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah kurma.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallaahu’ahu, Ash-Shahihah: 562]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاء

“Makan sahurlah kalian walau hanya dengan seteguk air.” [HR. Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Amr radhiyallaahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1071]

Kedelapan: Ringkasan 10 Keberkahan Makan Sahur

Keberkahan maknanya adalah kebaikan yang melimpah dan terus-menerus ada, dan sungguh keberkahan makan sahur sangat banyak.

Rasulullah shallallahu’laihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada keberkahan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Diantara Keberkahan Makan Sahur:[7]

1) Ibadah kepada Allah ta’ala.

2) Menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

3) Lebih menguatkan orang yang berpuasa untuk bertahan sampai terbenam matahari dan tetap melakukan ibadah-ibadah yang lain.

4) Memudahkan sholat Shubuh berjama’ah, karena itulah disunnahkan makan sahur mendekati waktu Shubuh.

5) Menyelisihi puasa Yahudi dan Nasrani. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.” [HR. Muslim dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallaahu’anhu]

6) Memanfaatkan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah di waktu sahur, karena sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik untuk berdoa.[8]

Dan makan sahur itu sendiri adalah doa ibadah, karena doa terbagi dua: Doa ibadah dan doa permohonan.[9]

Maka merugilah orang yang menghabiskan waktu sahur untuk bermain-main atau menonton acara-acara hiburan yang bahkan pada umumnya mengandung maksiat kepada Allah jalla wa ‘ala.

7) Mendapatkan sholawat Allah ta’ala dan malaikat-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makan yang penuh berkah, maka janganlah kalian tinggalkan walau seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan para malaikat-Nya bersholawat untuk orang-orang yang makan sahur.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 3683]

Sholawat Allah ta’ala atas mereka maknanya mencakup pemaafan-Nya, rahmat-Nya dan ampunan-Nya dicurahkan untuk mereka. Adapun sholawat malaikat atas mereka adalah malaikat mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah ta’ala untuk mereka.

8) Mendapatkan pahala ibadah makan sahur karena meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.[10]

9) Menambah semangat dan menghilangkan kemalasan yang disebabkan oleh rasa lapar.[11]

10) Menjadi sebab bersedekah kepada orang yang membutuhkan makan sahur dan atau makan bersamanya.[12]

Kesembilan: [Faidah Penting] Amalan Batin saat Makan Sahur

Hendaklah orang yang makan sahur memilik amalan batin, tidak sekedar makan biasa.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إنه ينبغي للإنسان حين تسحره أن يستحضر أنه يتسحر امتثالا لأمر الله ورسوله ويتسحر مخالفة لأهل الكتاب وكرها لما كانوا عليه ويتسحر رجاء البركة في هذا السحور ويتسحر استعانة به على طاعة الله حتى يكون هذا السحور الذي يأكله خيرا وبركة وطاعة والله الموفق

“Sungguh sepatutnya bagi seseorang, ketika makan sahur hendaklah menghadirkan dalam hatinya bahwa ia melakukannya dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan demi menyelisihi ahlul kitab (yahudi dan nasrani) serta membenci perbuatan mereka yang tidak mau makan sahur. Dan hendaklah ia makan sahur dalam rangka mengharap keberkahan dari Allah dan menguatkannya untuk taat kepada Allah, sehingga dengan niat-niat tersebut, makan sahurnya bernilai kebaikan, keberkahan dan ketaatan kepada Allah. Wallaahul Muwaffiq.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Kesepuluh: Apabila Mendengar Adzan Shubuh saat Makan Sahur

Apabila seseorang sedang makan sahur kemudian terdengar adzan Shubuh, maka ada dua kondisi:

Pertama: Apabila ia yakin bahwa waktu sholat Shubuh telah masuk, yaitu mu’adzin tidak salah waktu, maka wajib baginya untuk segera menghentikan makan sahurnya saat itu juga.

Kedua: Apabila ia masih ragu akan masuknya waktu Shubuh, maka boleh baginya meneruskan makannya sampai ia yakin bahwa waktu Shubuh telah masuk, karena pada asalnya adalah tetapnya malam.[13]

Adapun hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Apabila seorang diantara kalian mendengar adzan, dan bejana masih ada di tangannya, maka janganlah ia letakkan sampai ia selesaikan hajatnya.” [HR. Abu Daud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1394]

Maka mayoritas ulama berpendapat makna hadits ini adalah seperti rincian yang kami jelaskan di atas, yaitu apabila masih dalam kondisi ragu akan masuknya waktu Shubuh maka boleh meneruskan makan dan minum, dan apabila sudah yakin maka tidak boleh lagi meneruskan makan dan minum, karena telah masuk waktu memulai puasa.[14]

Catatan Kaki:

[1] Lihat Fathul Baari, 4/139.

[2] Lihat Lisaanul Arab, 4/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247.

[3] Dalam istilah Astronomi disebut: “Zodiacal light”.

[4] Dalam istilah Astronomi disebut: “Twilight”.

[5] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 248-252.

[6] Lihat Fathul Baari, 4/199.

[7] Lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/284-285.

[8] Lihat Fathul Baari. 4/140.

[9] Sebagaimana telah kami terangkan secara ringkas dalam buku “25 Dosa Syirik”.

[10] Lihat Fathul Baari, 4/140.

[11] Lihat Fathul Baari, 4/140.

[12] Lihat Fathul Baari, 4/140.

[13] Lihat Taudhihul Ahkam, 3/472 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/284, no. 6468.

[14] Lihat Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab, 6/312.

═══ ❁✿❁ ═══

Gabung Group WA KAJIAN ISLAM
Ketik: Daftar
Kirim ke Salah Satu Admin:
wa.me/628111833375
wa.me/628119193411
wa.me/628111377787

TELEGRAM
t.me/taawundakwah
t.me/sofyanruray
t.me/kajian_assunnah
t.me/kitab_tauhid
t.me/videokitabtauhid
t.me/kaidahtauhid
t.me/akhlak_muslim

Medsos dan Website:
– youtube.com/c/kajiansofyanruray
– instagram.com/sofyanruray.info
– facebook.com/sofyanruray.info
– instagram.com/taawundakwah
– facebook.com/taawundakwah
– twitter.com/sofyanruray
– taawundakwah.com
– sofyanruray.info

#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

Taawun Dakwah

Tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridho Ilahi

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *