SYARAT DITERIMANYA IBADAH

SYARAT DITERIMANYA IBADAH

 

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

SYARAT DITERIMANYA IBADAH

 

Setiap hamba akan berjumpa dengan Rabb-nya dan berdiri di hadapan-Nya untuk dihisab, maka ketika itu ada hamba yang dirahmati dan ada yang dimurkai.

Allah ta’ala telah menerangkan dua syarat mendapatkan rahmat ketika berjumpa dengan-Nya dan inilah dua syarat diterimanya ibadah,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Al-Kahfi: 110]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat yang mulia ini,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ أَيْ: ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ الصَّالِحَ، {فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا}، مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرْعِ اللَّهِ {وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَهَذَانَ رُكْنَا الْعَمَلِ الْمُتَقَبَّلِ. لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ خَالِصًا لِلَّهِ، صوابُا عَلَى شَرِيعَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik.

Maka hendaklah ia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah ta’ala.

Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya.

Dua perkara ini adalah dua rukun amalan yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/205]

Maka syarat diterimanya ibadah yang telah ditetapkan Allah ‘azza wa jalla ada dua syarat:

1. Ikhlas, yaitu beribadah karena mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, lawannya adalah riya, yaitu mempertontonkan badah karena ingin dipuji orang.

2. Ittiba’, yaitu mengikuti sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, lawannya adalah bid’ah, yaitu mengada-ada dalam agama tanpa dalil.

Ulama sepakat (ijma’) bahwa ibadah tidak akan benar tanpa memenuhi dua syarat ini (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 115).

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber:

📋 SYARAT DITERIMANYA IBADAH بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . Allah ta'ala berfirman, فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا . “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Al-Kahfi: 110] Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat yang mulia ini, فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ أَيْ: ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ الصَّالِحَ، {فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا}، مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرْعِ اللَّهِ {وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَهَذَانَ رُكْنَا الْعَمَلِ الْمُتَقَبَّلِ. لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ خَالِصًا لِلَّهِ، صوابُا عَلَى شَرِيعَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik. Maka hendaklah ia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah ta'ala. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya. Dua perkara ini adalah dua rukun amalan yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/205] Maka syarat diterimanya ibadah yang telah ditetapkan Allah ta'ala ada dua syarat: 1. Ikhlas, yaitu beribadah karena mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, lawannya adalah riya, yaitu mempertontonkan badah karena ingin dipuji orang. 2. Ittiba', yaitu mengikuti sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, lawannya adalah bid'ah, yaitu mengada-ada dalam agama tanpa dalil. Ulama sepakat (ijma’) bahwa ibadah tidak akan benar tanpa memenuhi dua syarat ini (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, hal. 115). . Sumber: IG @sofyanruray.info @taawundakwah #ustadzsofyanchalidruray #ustadzsofyanruray #sunnah #tauhid #kajiansunnah #hijrah #ibadah #amalan #takwa #islam #yukhijrah #dakwah #salaf #ahlussunnah #ahlussunnahwaljamaah

A post shared by Sofyan Chalid bin Idham Ruray (@sofyanruray.info) on

Syarat Diterimanya Ibadah

👉🏾 SUBSCRIBE YOUTUBE
http://bit.ly/sofyanruray

👉🏾 FOLLOW INSTAGRAM
http://bit.ly/igsofyanruray || http://bit.ly/igtaawundakwah

👉🏾 JOIN TELEGRAM
http://t.me/sofyanruray || http://t.me/taawundakwah || https://t.me/kajian_assunnah || https://t.me/kitab_tauhid

👉🏾 LIKE FACEBOOK
www.fb.com/sofyanruray.info || www.fb.com/taawundakwah

👉🏾 IKUTI TWITTER

👉🏾 KLIK WEBSITE
www.sofyanruray.info || www.taawundakwah.com

👉🏾 INSTAL ANDROID
http://bit.ly/androidsofyanruray

👉🏾 GABUNG GROUP WA
08111377787

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *