RINGKASAN MANAJEMEN MARAH (CARA MENGELOLA DAN MERUBAH AMARAH MENJADI KEBAIKAN)

Ringkasan Manajemen Marah (Cara Mengelola dan Merubah Amarah Menjadi Kebaikan)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

RINGKASAN MANAJEMEN MARAH (CARA MENGELOLA DAN MERUBAH AMARAH MENJADI KEBAIKAN)

Marah, adalah suatu keadaan yang terkadang ada dalam diri setiap orang, tak terkecuali orang-orang yang mulia, hanya saja yang membedakan adalah sebab-sebab kemarahan dan cara-cara dalam mengatasinya. Oleh karena itu perlu dipahami, kemarahan ada tiga bentuk:

Pertama: Kemarahan yang Terpuji.

Marah yang terpuji adalah marah karena Allah, yaitu marah ketika terjadi pelanggaran terhadap syari’at Allah ta’ala.

Kedua: Kemarahan yang Tercela.

Marah yang tercela adalah marah yang bukan karena Allah, yang berdasarkan pada sesuatu yang tercela, seperti marah karena kesombongan, hizbiyyah (fanatisme golongan), dan berbagai sebab yang tercela lainnya.

Ketiga: Kemarahan yang Mubah.

Marah yang mubah adalah marah karena tabiat (sifat dasar manusia), seperti marah karena disakiti atau dihina, hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, seperti berbuat zalim, mencaci, mengghibah, bahkan memukul dan membunuh.

Dan sebaliknya, marah karena tabiat ini dapat menjadi kebaikan yang besar apabila dikelola secara benar, yaitu sesuai tuntunan agama yang mulia ini.

Cara Mengelola Kemarahan:

Dari sahabat yang Mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَوْصِنِي قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لاَ تَغْضَبْ

“Bahwasannya seseorang berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: Jangan marah. Orang tersebut meminta wasiat sampai beberapa kali. Beliau pun bersabda: Jangan marah.” [HR. Al-Bukhari]

 

Para ulama menjelaskan, makna “Jangan marah” dalam hadits di atas mencakup lima makna:

✅ Pertama: Menghilangkan amarah dengan memaafkan (lihat Syarhu Shahihil Bukhari, 9/296).

✅ Kedua: Jangan mudah marah atau cepat marah (lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin karya Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah).

✅ Ketiga: Menjauhi sebab-sebab kemarahan (lihat Fathul Bari, 10/520).

✅ Keempat: Menghilangkan sifat sombong, karena itulah sebab kemarahan terbesar (lihat Fathul Bari, 10/520).

✅ Kelima: Tidak menuruti amarah atau melampiaskannya dengan cara yang salah (lihat Fathul Bari, 10/520)

Demikianlah cara mengelola kemarahan yang terkandung dalam satu hadits di atas, cara yang lainnya:

✅ Keenam: Meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari setan, dengan membaca:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim”

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

✅ Ketujuh: Berwudhu.

✅ Kedelapan: Diam, tidak berbicara apalagi berdebat dan saling mencaci.

✅ Kesembilan: Merubah posisi, jika sedang berdiri hendaklah duduk atau jika sedang duduk hendaklah berbaring.

✅ Kesepuluh: Melatih diri untuk tidak marah dan menahan emosi. Menahan marah adalah akhlak yang terpuji, dan akhlak yang terpuji terkadang dimiliki seseorang sebagai sifat dasarnya, dan terkadang ia perlu berjuang dan melatih diri untuk dapat memilikinya.

✅ Kesebelas: Mengedepankan prasangka baik kepada saudara kita yang telah membuat marah, karena sesungguhnya prasangka baik dapat melapangkan hati dan menghilangkan kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita.

✅ Keduabelas: Senantiasa mengingat keutamaan menahan marah.

✅ Ketigabelas: Mengambil teladan dari orang-orang shalih.

✅ Keempatbelas: Mengingat akibat jelek kemarahan. Orang yang marah terkadang hilang akal sehatnya, sehingga ia mengatakan atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang kelak ia sesali.

✅ Kelimabelas: Mengingat murka Allah dan azab-Nya yang pedih.

Sahabat yang Mulia Abud Darda radhiyallahu’anhu berkata,

أقرب مايكون العبد من غضب الله تعالى إذا غضب

“Saat yang paling dekat antara seseorang dengan kemurkaan Allah adalah apabila hamba tersebut sedang marah.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Al-Imam Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata,

أطفئوا نار الغضب بذكر نار جهنم

“Padamkanlah api kemarahan dengan mengingat api neraka jahannam.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

✏Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Baca Selengkapnya:

Manajemen Marah

 

Semoga bermanfaat. Mohon ta’awun menyebarkan dakwah tauhid dan sunnah ini. Semoga menjadi sebab hidayah dan pemberat timbangan kebaikan kita di Hari Kiamat, insya Allah ta’ala.

Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

══════ ❁✿❁ ══════

Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam.

➡ Channel Telegram Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah ⤵

? Join Telegram: http://bit.ly/1TwCsBr

? Join Telegram: http://goo.gl/6bYB1k

? Gabung Group WA: 08111377787

? FB: www.fb.com/sofyanruray.info

? Web: www.sofyanruray.info

? Android: http://bit.ly/1FDlcQo

? Youtube: Ta’awun Dakwah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *